Bab 1

Prolog: Tanda Tangan

1,273 kata

“Tanda tangan di sini, Naira.”

Ujung telunjuk Mas Galang berhenti di atas garis kosong pada halaman terakhir. Tidak ada getar sedikit pun di tangannya. Seolah-olah yang sedang ia sodorkan bukan perjanjian pemisahan harta, melainkan tanda terima paket.

Aku menatap map cokelat di meja. Dua belas halaman. Enam tahun pernikahan kami ternyata bisa diringkas menjadi dua belas halaman dan satu tempat untuk tanda tanganku.

Ruangan notaris itu dingin. Gelas air di depanku belum kusentuh sejak tadi. Di sebelah Mas Galang, Mama Mirna duduk tegak dengan tas bermerek di pangkuan. Beliau bahkan ikut memakai parfum yang biasa dipakai untuk datang ke pesta.

“Kenapa harus sekarang?” tanyaku.

Mas Galang menghela napas. “Kita udah bahas di rumah.”

“Mas yang bicara. Aku belum pernah bilang setuju.”

Mama Mirna langsung menyela. “Memangnya apa yang mau kamu pikirkan lagi? Ini cuma untuk memperjelas. Biar nanti nggak ada salah paham.”

Aku menoleh kepada Pak Hendra, notaris yang sejak tadi lebih banyak menunduk. Lelaki berambut tipis itu membetulkan letak kacamatanya.

“Saya perlu memastikan satu hal dulu,” katanya. “Ibu sudah menerima draf sebelum hari ini?”

“Tiga hari lalu.”

“Kalau Ibu merasa ditekan atau perlu nasihat dari advokat sendiri, penandatanganan bisa ditunda. Saya membacakan akta dan mencatat kesepakatan, bukan memutus siapa yang paling berhak.”

Mama Mirna mendecakkan lidah. Mas Galang melihat jam tangannya.

“Draf ini mengatur penghasilan profesi setelah tanggal efektif untuk dikelola masing-masing,” lanjut Pak Hendra. “Aset yang sudah ada tidak otomatis berubah status kalau tidak disebut secara khusus. Pencatatannya juga harus diselesaikan, dan hak bank atau pihak ketiga tidak boleh dirugikan.”

“Jadi penghasilan saya nanti juga milik saya?”

Mas Galang terkekeh pendek.

Suara itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.

“Penghasilan apa?” tanyanya. “Kamu kan nggak kerja.”

Mama Mirna ikut tersenyum. “Nulis-nulis di ponsel memang bisa disebut penghasilan?”

Jari-jariku meremas ujung rok. Kuku telunjuk menekan telapak tangan sampai terasa sakit.

Pagi tadi aku bangun pukul lima. Menanak nasi, menyetrika dua kemeja Mas Galang, lalu membuat bekal karena ia tidak suka lauk kantor. Sebelum berangkat, ia masih memintaku memperbaiki kalimat dalam proposal penjualannya.

Tak satu pun pekerjaan itu punya slip gaji.

Berarti, bagi mereka, tak satu pun pernah terjadi.

“Saya perlu jawaban Bapak,” kataku kepada Pak Hendra. “Kalau suatu hari saya menerima penghasilan sendiri, apakah saya bisa mengelolanya?”

“Kalau sumbernya masuk dalam klausul yang disepakati, bisa,” jawabnya. “Tetapi jangan memakai kalimat saya sebagai putusan untuk semua keadaan. Kalau nanti ada sengketa tentang kapan hak itu lahir atau apakah suatu aset termasuk harta bersama, Ibu tetap perlu nasihat hukum sendiri.”

“Naira.” Nada Mas Galang mulai mengeras. “Jangan dibuat ribet.”

Kancing ketiga pada kemeja biru Mas Galang pernah lepas di bandara. Kujahit di ruang tunggu memakai jarum dari kotak jahit kecil di tasku. Kemeja itu juga yang kusetrika pagi tadi.

Hal-hal kecil seperti itu tidak pernah masuk ke dalam dokumen.

“Rumah yang sedang kita cicil juga akan jadi milik Mas?” tanyaku.

“Aku yang bayar cicilannya.”

“Uang belanja yang kusisihkan untuk uang muka waktu itu?”

“Itu uang dari aku juga, kan?”

Mama Mirna menggeser tasnya. “Perempuan kalau sudah bicara harta memang kelihatan aslinya.”

Pak Hendra mengangkat telapak tangan sebelum Mas Galang menjawab lagi. “Rumah itu dibeli saat perkawinan dan masih terikat KPR. Nama pada sertifikat, nama debitur, sumber uang muka, dan cicilan semuanya perlu dilihat. Saya tidak akan menulis rumah otomatis menjadi milik Pak Galang hanya karena beliau yang membayar lewat rekening. Hak bank juga tetap berlaku apa pun isi perjanjian suami istri.”

“Jadi buat apa kita ke sini?” Mas Galang menyandarkan tubuh dengan kasar.

“Untuk menulis hal yang benar-benar kalian sepakati. Bukan untuk saya menebak hasil perkara yang belum ada.”

Dadaku terasa penuh, tetapi air mataku tidak jatuh. Belum. Aku terlalu sibuk mendengar satu kalimat berulang-ulang di kepala.

Penghasilanmu nanti bisa kaukelola sendiri.

Ponsel di dalam tas bergetar. Sekali. Berhenti. Lalu bergetar lagi.

Sejak semalam aku menunggu balasan dari seorang editor bernama Rani Wicaksana. Dua minggu lalu ia mengirim pesan melalui akun tempatku mengunggah cerita. Awalnya kukira penipuan. Setelah memeriksa alamat surel dan laman resmi penerbit, barulah kukirimkan naskah lengkap.

Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor notaris, sebuah surel masuk.

Subjeknya hanya terlihat sebagian di layar: Penawaran Penerbitan Naskah ....

Aku belum berani membuka isinya. Namun, aku sudah melihat cukup banyak untuk tahu bahwa mungkin ada uang di balik naskahku.

Pengetahuan kecil itu terasa seperti kelereng di bawah lidah. Aku bisa mengeluarkannya sekarang. Aku memilih diam.

“Mau sampai kapan?” tanya Mas Galang. “Aku masih harus ke kantor.”

“Kenapa Mama harus ikut?”

Wajah Mama Mirna berubah kaku. “Galang anak saya. Wajar kalau saya memastikan hasil kerja kerasnya aman.”

“Aman dari siapa?”

Tak ada yang menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Aman dariku.

Mas Galang menyandarkan punggung. “Kamu tinggal di rumah, semua kebutuhan aku tanggung. Aku nggak pernah melarang kamu beli apa pun selama masuk akal. Tapi kita juga harus realistis. Kalau suatu hari terjadi sesuatu, aku nggak mau kerja kerasku jadi masalah.”

Enam tahun lalu ia memintaku berhenti dari kantor karena jam kerjaku sering sampai malam. Katanya, penghasilannya cukup untuk kami berdua. Katanya, aku bisa menulis dari rumah kalau bosan.

Sekarang pilihan yang ia minta sendiri dipakai sebagai bukti bahwa aku tidak berguna.

Pak Hendra belum mendorong pulpen. “Bu Naira, masih mau lanjut?”

Aku memandang draf di depanku. Lalu aku teringat satu berkas di laptop yang kuberi nama terakhir: Piring_final_beneran_7.

“Saya mau naskah yang sudah saya tulis sebelum hari ini dicantumkan dalam lampiran,” kataku. “Judul kerjanya Setelah Piring Terakhir Pecah. Hak cipta tetap atas nama pencipta, dan penghasilan dari lisensi penerbitannya saya kelola sendiri.”

Pak Hendra mencatat. “Kita bisa menyebut naskahnya secara spesifik. Untuk akibat hukumnya, saya sarankan masing-masing tetap berkonsultasi sendiri. Bapak setuju lampiran itu?”

Mas Galang mengangkat bahu. “Kalau itu bikin dia cepat tanda tangan, masukin aja. Memangnya tulisan di ponsel bisa jadi apa?”

Pak Hendra meminta staf memperbaiki draf. Dua puluh menit kemudian, ia membacakannya lagi. Rumah tidak ditetapkan sebagai milik siapa pun dalam akta ini. Penghasilan profesi setelah tanggal efektif diatur terpisah. Naskahku disebut dengan judul dan tanggal berkas. Perubahan hanya bisa dilakukan lewat kesepakatan baru, tanpa menghilangkan hak bank atau pihak lain.

Setelah aku menyatakan mengerti, barulah pulpen hitam itu diletakkan di depanku.

Mas Galang tampak lega. Mama Mirna membenarkan posisi duduk, seperti baru saja memenangkan sesuatu.

“Saya mau salinan resmi setelah pencatatan selesai,” kataku.

“Staf saya akan menghubungi Ibu,” jawab Pak Hendra.

“Dan saya ingin lampiran naskah itu ikut dalam salinan.”

Senyum Mama Mirna memudar sedikit.

Mas Galang menggeleng. “Terserah. Yang penting selesai.”

Aku membubuhkan tanda tangan perlahan. Naira Pradani. Nama yang selama ini hanya muncul di kartu keluarga, tagihan listrik, dan alamat penerima paket belanja Mas Galang.

Ada satu hal yang tidak masuk ke akta: aku sudah melihat kata penawaran sebelum meminta lampiran itu ditambahkan.

Selesai.

Di parkiran, Mas Galang berjalan lebih dahulu bersama mamanya. Ia tidak menungguku seperti biasanya. Aku berdiri di samping mobil, membuka ponsel dengan tangan yang mulai dingin.

Surel dari Rani Wicaksana terbuka penuh.

Pustaka Aruna tertarik menerbitkan naskahku. Mereka meminta pertemuan untuk membicarakan kontrak, uang muka, jadwal terbit, dan kemungkinan memakai nama pena.

Di bagian bawah, Mbak Rani menulis satu kalimat.

Cerita Ibu punya pembaca. Jangan berhenti hanya karena selama ini belum ada yang mengatakannya.

Pandangan mataku kabur.

Air mataku jatuh. Bukan karena map cokelat yang kini ada di dalam tas. Bukan juga karena tawa suamiku saat aku menyebut penghasilan.

Aku menangis karena seorang asing membaca tulisanku dan melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat orang-orang terdekatku.

Mas Galang membunyikan klakson.

“Naira! Lama banget!”

Aku mengusap pipi, lalu menekan tombol balas.

Jempolku berhenti satu detik di atas layar. Sesudah itu, kutulis kalimat paling pendek yang pernah mengubah hidupku.

Saya menerima tawaran Mbak. Kapan kita bisa bertemu?

Kukirim pesan itu sebelum masuk ke mobil.

Catatan Kumala: Kalau kalian menjadi Naira, apakah kalian juga akan menandatangani perjanjian itu?

Akhir Bab 1

Komentar (0)

Masuk Masuk untuk ikut berkomentar.