Bab 2
Bab 1: Harga Sebuah Cerita
1,172 kata
“Saya nggak mau memberi harapan palsu, Naira.”
Kalimat pertama Mbak Rani membuat sendok kecil di dalam kopiku berhenti berputar.
Kami duduk di sudut kedai kecil, dua bangunan dari kantor Pustaka Aruna. Aku datang dua puluh menit lebih awal karena takut tersesat. Kemeja putih yang kupakai sudah tiga tahun tergantung di lemari dan bagian lengannya terasa sedikit sempit.
Semalam Mas Galang bertanya aku mau pergi ke mana.
“Ketemu teman lama,” jawabku.
Itu kebohongan pertamaku selama enam tahun menikah. Rasanya tidak enak.
Mas Galang bukan selalu lelaki yang tertawa saat aku menyebut penghasilan. Seusai Ayah meninggal, ketika aku bahkan takut membuka laptop kantor, ia pernah duduk di lantai kamar kosku sambil membawa martabak dingin. Ia membaca tiga halaman cerpenku dan bilang aku boleh berhenti menjadi kuat malam itu. Barangkali aku menikahi lelaki yang melakukan itu. Barangkali selama enam tahun aku terus menunggu ia pulang.
Lalu aku teringat caranya memandangku kemarin. Rasa bersalah itu mengecil, tetapi tidak hilang.
Mbak Rani memutar laptop agar layarnya menghadapku. Ia tidak tampak seperti orang yang suka membuang waktu. Rambutnya dipotong sebahu, kacamatanya berbingkai hitam, dan di samping laptop ada buku catatan penuh tempelan warna-warni.
“Pasar buku nggak bisa ditebak,” lanjutnya. “Naskah bagus belum tentu laku. Pengikut banyak juga belum tentu jadi pembeli. Saya harus bilang itu dari awal.”
Aku mengangguk. “Saya mengerti.”
“Tapi cerita kamu punya sesuatu.”
Ia mengeklik sebuah tabel. Ada angka pembaca, jumlah orang yang menyimpan ceritaku, serta komentar yang masuk setiap kali aku mengunggah bagian baru. Aku mengenali judul sementara di bagian atas layar: Setelah Piring Terakhir Pecah.
Selama ini semua angka itu hanya kulihat dari ponsel tua. Aku tidak pernah menganggapnya penting. Satu pembaca, sepuluh pembaca, lalu ribuan. Mereka tidak mengenalku. Aku pun tidak mengenal mereka.
Namun, ternyata Mbak Rani menghitung semuanya.
“Empat ratus delapan puluh ribu pembacaan kumulatif,” katanya. “Bukan berarti bukunya nanti terjual sebanyak itu. Satu orang bisa membuka beberapa bagian. Tapi tingkat pembaca yang bertahan sampai akhir tinggi. Komentarnya hidup. Orang marah sama tokohnya, ikut sakit hati, lalu nunggu perempuan itu melawan.”
“Banyak juga yang bilang tokoh utamanya terlalu bodoh.”
Mbak Rani tertawa. “Itu bagus.”
Aku mengerutkan dahi.
“Mereka cukup peduli sampai marah. Yang bahaya itu kalau pembaca diam dan pergi.”
Aku melihat lagi angka di layar. Cerita itu kutulis di meja makan setelah semua piring dicuci. Kadang pukul sebelas malam. Kadang lewat pukul dua, saat Mas Galang mendengkur dan rumah akhirnya tidak meminta apa-apa dariku.
Ternyata, pada jam-jam sepi itu, ada orang yang menunggu tulisanku.
“Apa yang Pustaka Aruna tawarkan?” tanyaku.
Mbak Rani menutup tabel dan membuka dokumen lain. “Kontrak lima tahun untuk buku cetak dan buku elektronik berbahasa Indonesia. Hak cipta tetap tercatat atas nama kamu. Yang kami minta hak menerbitkan dalam format dan wilayah yang tertulis di sini. Versi berseri di platform lama nggak otomatis jadi milik kami. Nanti kita atur bagian mana yang tetap tayang sebagai cuplikan dan kapan versi lengkapnya diarsipkan.”
Ia menunjuk dua pasal berikutnya. “Ada uang muka royalti. Itu dibayar di depan, tetapi diperhitungkan dari royalti penjualan. Kalau royalti yang terkumpul belum melewati uang muka, belum ada pembayaran tambahan. Laporannya per semester, setelah potongan retur dan pajak sesuai dokumen.”
“Berarti uang muka bukan bonus?”
“Bukan. Lebih seperti penerbit membayar sebagian hak kamu lebih awal dan ikut mengambil risiko. Angka pembaca daring membantu kami berani, tapi itu juga bukan empat ratus delapan puluh ribu pembeli.”
Ia menggeser draf kontrak ke depanku.
Aku tidak langsung mengambil pulpen.
Kemarin aku belajar bahwa tempat untuk tanda tangan bisa lebih berbahaya daripada kalimat yang dicetak besar-besar. Kubaca setiap halaman. Jika ada kata yang tidak kupahami, aku bertanya.
Mbak Rani tidak terlihat terganggu.
“Bagus kalau kamu teliti,” katanya. “Bawa pulang dulu juga boleh.”
“Saya akan bawa pulang, tapi saya nggak mau suami saya melihatnya.”
Ucapanku membuatnya diam.
Aku menunduk. Bintik kopi mengering di sisi cangkir. Mendadak aku merasa seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan nilai ulangan.
“Ada masalah?” tanya Mbak Rani.
“Kami baru membuat perjanjian pemisahan harta.”
“Baru?”
“Kemarin.”
Aku menceritakan seperlunya. Tidak tentang semua sindiran Mama Mirna. Tidak tentang enam tahun ketika pekerjaanku dianggap angin lalu. Hanya tentang klausul penghasilan dan keinginanku memastikan kontrak ini berdiri atas namaku sendiri.
Mbak Rani mendengarkan tanpa memotong.
“Saya bukan ahli hukum keluarga,” katanya sesudah aku selesai. “Nanti bagian legal kami bisa menjelaskan kontrak penerbitan. Untuk perjanjiannya, kamu tetap perlu konsultasi dengan advokat yang tidak bekerja untuk kami. Soal hak cipta dan soal uangnya bisa punya akibat hukum yang berbeda. Nama pencipta dan pihak yang memberi lisensi di kontrak ini harus kamu, tapi saya nggak akan menebak bagaimana penghasilannya dinilai dalam perkawinanmu.”
Aku menunjukkan foto lampiran akta yang mencantumkan judul naskah. Tidak kutunjukkan waktu surel penawaran masuk.
Mbak Rani membaca sebentar. “Bagus naskahnya disebut spesifik. Tetap minta orang independen mengecek sebelum tanda tangan, ya.”
“Saya sudah membuat janji konsultasi Jumat ini.”
Dadaku terasa sedikit longgar.
“Saya juga ingin pakai nama pena.”
“Sudah punya?”
Aku membuka halaman belakang buku catatan. Ada beberapa nama yang kucoret. Aku memilih dua potong dari namaku sendiri, lalu menggeser buku itu kepadanya.
Aruna Pradi.
Mbak Rani mengucapkannya pelan. “Enak. Mudah diingat.”
“Saya belum mau wajah saya dipakai untuk promosi.”
“Bisa. Untuk tahap awal, kita jual ceritanya. Tapi saya jujur, tim pemasaran pasti akan mendorong pengungkapan kalau bukunya tumbuh. Wajah penulis mudah dijual. Keputusan akhirnya tetap harus kita tulis jelas, jangan cuma mengandalkan omongan saya.”
“Kalau waktunya sudah tepat, saya akan pikirkan lagi.”
Ia memberi tanda pada catatannya. “Oke. Aruna Pradi dulu.”
Ponselku bergetar di atas meja.
Mas Galang.
Aku membiarkannya satu kali. Ia menelepon lagi.
“Angkat saja,” kata Mbak Rani.
Aku menggeser tombol hijau. “Halo, Mas.”
“Kamu di mana? Mama mau makan siang di rumah. Tolong belikan ikan gurami, terus bikin sambal yang biasa.”
Aku melihat jam. Pertemuanku bahkan belum berlangsung empat puluh menit.
“Aku masih sama teman.”
“Ya pulanglah. Teman bisa ketemu kapan aja.”
Di seberang meja, Mbak Rani pura-pura membaca kontrak.
“Aku pulang setelah urusanku selesai.”
Hening.
“Urusan apa memangnya?”
“Nanti aku jelaskan.”
“Jangan lama. Mama udah di jalan.”
Sambungan terputus.
Biasanya aku akan buru-buru berdiri, meminta maaf, lalu berlari mencari ikan gurami. Hari itu aku memasukkan ponsel ke dalam tas dan kembali membuka kontrak.
“Kita lanjut,” kataku.
Sudut bibir Mbak Rani terangkat sedikit.
Ia menjelaskan jadwal penyuntingan, desain sampul, pengurusan ISBN, dan rencana prapesan. Minggu pertama dipakai untuk kontrak dan revisi awal. Empat minggu berikutnya untuk penyuntingan, sampul, serta materi pemasaran. Kalau semua lolos tepat waktu, prapesan baru dibuka pada minggu keenam dan buku dikirim sekitar dua minggu sesudahnya.
Aku mencatat semuanya. Tenggat revisi pertama jatuh sepuluh hari lagi. Ada tiga bab yang harus kuperbaiki dan satu bagian akhir yang perlu diperkuat.
“Saya bisa mengerjakannya,” kataku.
“Saya percaya. Sekarang bagian yang biasanya paling disukai penulis.”
Mbak Rani menunjuk angka pada halaman kontrak. Aku mendekat, takut salah melihat jumlah nolnya.
“Ini uang muka royalti yang kami tawarkan,” katanya. “Nilai kotor, sebelum pajak yang berlaku. Kalau kontrak selesai dan data administrasi lengkap, bagian keuangan menjadwalkan pencairan paling lambat tujuh hari kerja.”
Aku membacanya sekali. Lalu sekali lagi.
Tiga puluh lima juta rupiah.
Catatan Kumala: Diam-diam Naira mulai punya harga atas karyanya. Menurut kalian, berapa lama rahasia ini bisa bertahan?
Komentar (0)
Masuk Masuk untuk ikut berkomentar.