Bab 5
Bab 4: Kata yang Selalu Dipinjam
909 kata
“Tolong benarkan presentasi ini sebelum besok pagi.”
Mas Galang meletakkan laptop di meja makan saat aku baru membuka dokumen revisi. Jam di sudut layar menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh malam.
Lima minggu berlalu sejak kontrakku ditandatangani. Naskah sudah melewati penyuntingan isi dan salinan. Nomor ISBN masuk dua hari lalu. Malam ini, saat prapesan dibuka, tim Pustaka Aruna akan menayangkan sampul yang selama ini hanya kulihat dalam berkas.
“Aku sedang kerja,” kataku.
“Ini penting, Naira.”
“Pekerjaanku juga penting.”
Ia berdiri di seberang meja, masih memakai celana kantor dan kaus dalam. Kemejanya sudah dilempar ke sandaran kursi. Di dekat sikunya ada piring bekas makan malam yang belum ia bawa ke dapur.
“Cuma cek kata-katanya,” katanya. “Paling setengah jam.”
Aku melihat layar laptopnya. Ada empat puluh tujuh halaman presentasi untuk calon distributor baru. Mas Galang selalu bilang hanya perlu setengah jam. Biasanya aku baru selesai setelah lewat tengah malam.
“Kirim ke stafmu.”
“Mereka nggak bisa nulis sebagus kamu.”
Pujian itu hampir membuatku tertawa.
Tiga hari lalu ia menyebut menulis sebagai kegiatan untuk mengisi waktu. Sekarang kemampuan yang sama mendadak penting karena ia membutuhkannya.
“Kalau aku bisa menulis lebih baik daripada stafmu, berarti ini pekerjaan,” kataku.
Mas Galang mengusap wajah. “Kita nggak perlu debat soal istilah.”
“Aku punya tenggat sendiri.”
“Tenggat dari siapa?”
Aku tidak menjawab.
Sepulang dari hotel, Selvi menelepon tiga kali. Pada panggilan keempat, aku akhirnya mengangkat.
“Rani tadi mau panggil kamu Aruna,” katanya tanpa salam. “Kamu penulis misterius itu?”
“Dia sedang pegang dua pembicaraan sekaligus. Aku memang penulis, tapi naskahku belum diumumkan.”
Kalimat itu bukan bohong seluruhnya. Itu juga bukan jawaban.
“Jangan lucu, deh. Namamu Naira Pradani. Aruna Pradi. Mirip banget.”
Di sampingku, Mbak Rani menutup mata. Ia lalu mengambil ponselnya sendiri dan mengirim surel yang menerangkan bahwa ia menangani beberapa proyek serta tidak boleh mengungkap identitas klien. Penjelasan profesional itu membuat Selvi berhenti bertanya malam tersebut, bukan berhenti curiga.
“Maaf,” kata Mbak Rani setelah sambungan ditutup. “Saya terlalu cepat bicara. Tim saya juga belum saya pagar seketat yang seharusnya.”
Aku kesal. Ia tahu itu. Kami tetap duduk dua puluh menit lagi untuk menambah aturan: tak ada vendor, pembawa acara, atau tim pemasaran yang menerima nama asliku tanpa persetujuan tertulis.
Rahasia itu selamat. Kepercayaanku kepadanya mendapat retak tipis.
Prapesan bukuku akan dibuka malam ini pukul sebelas.
“Ini soal naskah kamu?” tanya Mas Galang.
“Iya.”
“Bisa dikerjakan besok. Presentasiku jam delapan pagi.”
“Revisiku juga harus masuk besok.”
Mas Galang menarik kursi. “Naira, penghasilanku dipakai buat rumah ini. Kalau presentasi gagal, yang kena dampaknya kita berdua.”
“Katanya harta dan penghasilan kita sudah masing-masing.”
Rahangnya mengeras. “Jangan mulai.”
“Aku cuma mengingat isi perjanjian.”
“Perjanjian itu bukan berarti kita berhenti jadi suami istri.”
“Menjadi istri berarti pekerjaanku selalu boleh ditunda?”
Ia terdiam. Hanya dua detik, lalu mendorong laptopnya lebih dekat.
“Aku benar-benar butuh bantuanmu kali ini.”
Kali ini.
Aku bisa menyebut setidaknya sebelas presentasi dalam dua tahun terakhir yang kubenahi. Belum termasuk surel kepada klien, teks sambutan, dan pesan permintaan maaf ketika pengiriman barang terlambat.
Namaku tidak pernah tercantum.
Aku melihat dokumenku sendiri. Bab terakhir masih memiliki catatan dari Mbak Rani. Tokoh utamanya harus mengambil keputusan yang selama ini ia hindari. Lucu sekali. Aku menulis perempuan yang belajar menetapkan batas, sementara aku sendiri masih duduk di depan laptop suamiku setiap kali ia meminta.
“Aku kasih waktu empat puluh lima menit,” kataku. “Setelah itu aku lanjut bekerja.”
Mas Galang langsung mengangguk. “Cukup.”
“Dan semua berkas yang kubenahi akan kukirim juga ke surelku.”
“Buat apa?”
“Arsip.”
Ia hendak membantah, tetapi ponselnya berbunyi. Ia mengambilnya dan berjalan ke ruang tengah.
Aku membuka presentasi. Di halaman ketiga saja sudah ada klaim yang tidak sesuai dengan data penjualan. Grafiknya memakai angka kuartal lama, sementara kalimat di bawahnya menyebut pertumbuhan tahun berjalan.
“Mas,” panggilku. “Angka ini dari mana?”
“Berkas tim keuangan. Pokoknya rapikan aja.”
“Angkanya nggak cocok.”
“Nanti aku cek.”
“Kalau besok klien bertanya?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka berkas pendukung dan menemukan data yang benar. Selisihnya cukup besar. Kalau dibiarkan, Mas Galang bisa dituduh melebihkan kemampuan perusahaan.
Selama empat puluh lima menit aku merapikan bagian yang paling penting. Aku menulis ulang pembuka, membuang janji yang tidak bisa dibuktikan, lalu menambahkan catatan pada tiga halaman yang harus ia konfirmasi sendiri.
Tepat saat alarm ponsel berbunyi, aku berhenti.
“Belum semua,” protesnya ketika kembali ke meja.
“Bagian yang bermasalah sudah kutandai. Sisanya bisa dikerjakan timmu.”
“Dulu kamu nggak pernah setengah-setengah kalau bantu aku.”
Aku mengirim salinan berkas ke surelku. “Dulu aku nggak punya tenggat lain.”
Ia menatapku beberapa saat, seperti sedang mencoba mengenali orang yang duduk di depannya.
Aku mengangkat piring kotornya dan membawanya ke dapur. Bukan karena ia pantas dilayani, tetapi karena bau sisa gulai membuatku sulit berkonsentrasi.
Saat kembali, Mas Galang sudah membawa laptopnya ke kamar. Aku membuka dokumen naskah dan melanjutkan revisi.
Pukul sebelas lewat, pesan dari Mbak Rani muncul.
Materi prapesan baru naik lima belas menit dan pesanan awal sudah melewati perkiraan tim. Ini masih pesanan, belum penjualan final, ya. Besok pagi aku kirim laporan lengkap.
Aku menahan napas. Ada gambar tangkapan layar di bawah pesan itu. Ratusan orang telah memesan buku yang bahkan belum mereka pegang.
Ponselku kembali berbunyi. Kali ini surel otomatis dari portal penulis Pustaka Aruna.
Estimasi awal royalti Anda telah diperbarui.
Aku baru hendak membuka surel ketika sebuah tangan mengambil ponsel dari sampingku.
Mas Galang berdiri di belakang kursi.
Matanya tertuju pada kata yang masih terlihat jelas di layar.
“Royalti apa ini, Naira?”
Catatan Kumala: Petunjuk pertama sudah dilihat Mas Galang. Apakah ia akan menghargai pekerjaan Naira atau justru merasa berhak atas hasilnya?
Komentar (0)
Masuk Masuk untuk ikut berkomentar.