Bab 4

Bab 3: Teman Lama

768 kata

“Kamu masih di rumah aja, Naira?”

Selvi mengucapkannya sebelum aku sempat duduk.

Beberapa teman di meja menoleh. Ada yang tersenyum, ada pula yang pura-pura sibuk membaca daftar menu. Reuni kecil itu diadakan di restoran hotel, tempat yang dipilih Selvi karena cahaya dekat jendelanya bagus untuk membuat video.

Aku menarik kursi. “Aku kerja dari rumah sekarang.”

“Jualan apa?”

“Menulis.”

Selvi mengerjapkan mata, lalu tertawa. “Maksudmu bikin status?”

Dua orang di sebelahnya ikut tertawa kecil.

Aku meletakkan tas di pangkuan. Di dalamnya ada hasil cetak desain sampul pertama Setelah Piring Terakhir Pecah. Mbak Rani memberikannya kemarin dan memintaku membawa pulang untuk diperiksa. Aku ingin sekali mengeluarkan kertas itu, meletakkannya di meja, lalu melihat apakah tawa Selvi akan berhenti.

Namun, sampul itu masih rahasia.

Nama Aruna Pradi dicetak di bagian bawah dengan huruf putih.

“Nggak jualan,” jawabku. “Aku sedang menyiapkan buku.”

“Oh, terbit sendiri?”

“Lewat penerbit.”

Selvi memiringkan kepala. “Penerbit mana?”

Aku mengambil menu. “Nanti kalau sudah waktunya, aku kasih tahu.”

“Rahasia banget.” Ia mengangkat ponsel dan menyalakan kamera depan. “Teman-teman, ini Naira. Dulu paling jago bikin karangan pas sekolah. Sekarang jadi ibu rumah tangga dan mau menerbitkan buku.”

Aku menutup menu.

“Jangan rekam aku, Sel.”

“Cuma buat story.”

“Aku nggak mau.”

Senyumnya tetap ada, tetapi ia menurunkan ponsel. “Yaudah. Sensitif banget.”

Seorang teman bernama Dita buru-buru menanyakan menu makan siang. Percakapan pindah ke harga pasta dan paket minum, tetapi rasa panas di leherku belum hilang.

Mas Galang yang memintaku datang. Katanya aku perlu bertemu orang lain supaya tidak hanya mengurus dapur. Sebelum aku berangkat, ia juga berpesan agar tidak membicarakan masalah rumah tangga.

Seolah-olah semua orang akan langsung tahu pernikahan kami retak hanya dengan melihat wajahku.

Makanan datang satu per satu. Selvi menceritakan pekerjaannya menjadi pembawa acara peluncuran produk, pesta ulang tahun, dan seminar perusahaan. Ia menunjukkan potongan video saat berdiri di panggung dengan gaun merah.

“Dua bulan lagi aku mungkin pegang acara buku,” katanya. “Penerbitnya lagi bikin kampanye penulis misterius.”

Garpu berhenti setengah jalan menuju mulut.

“Penerbit apa?” tanya Dita.

“Pustaka Aruna. Kalian tahu, kan? Yang sering bikin buku drama itu.”

Aku meneguk air.

Tiga hari lalu Mbak Rani memang bilang tim pemasaran ingin membangun rasa penasaran di sekitar Aruna Pradi. Mereka akan memakai ilustrasi, kutipan, dan rekaman suara tanpa wajah. Aku belum tahu bahwa Selvi berada dalam daftar orang yang dipertimbangkan menjadi pembawa acara.

“Penulisnya siapa?” tanya teman lain.

Selvi mengedikkan bahu. “Belum dikasih tahu. Katanya orang baru, tapi cerita daringnya udah ramai. Bisa jadi strategi doang. Sekarang mah angka gampang dibuat.”

“Kalau kamu yang jadi pembawa acara, nanti minta buku gratis,” kata Dita.

“Pasti. Aku juga mau kasih tips ke penulisnya. Penampilan itu penting. Penulis sekarang harus bisa jual diri, nggak cukup cuma duduk ngetik di rumah.”

Tatapannya sempat mampir kepadaku.

Aku melanjutkan makan. Nasi di mulut terasa kering.

“Naira kalau bukunya jadi, bisa minta bantuan Selvi promosi,” ujar Dita, mungkin berniat menolong.

Selvi tertawa. “Boleh. Tarif teman.”

“Berapa?” tanyaku.

Ia menyebut angka yang hampir sama dengan uang belanja bulananku.

“Kalau cocok, nanti penerbitku yang menghubungi,” jawabku.

Meja mendadak sunyi selama satu detik.

Selvi menyipit. “Wah, sekarang punya penerbit segala.”

“Katamu penampilan penting. Berarti urusan promosi memang sebaiknya ditangani orang yang bekerja di bidang itu, kan?”

Dita menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Selvi hendak menjawab, tetapi seorang pelayan datang membawa hidangan pencuci mulut. Percakapan pecah lagi.

Aku meminta izin ke toilet setelah makan. Sebenarnya aku hanya butuh bernapas tanpa mendengar suara Selvi.

Di lorong dekat lobi, aku memeriksa ponsel. Ada pesan dari Mbak Rani yang menanyakan persetujuanku untuk warna sampul. Aku membalas singkat, lalu memasukkan ponsel ke tas.

“Naira?”

Aku menoleh.

Mbak Rani berjalan dari arah lift bersama dua orang yang memakai kartu identitas hotel. Ia membawa map biru dan tampak terkejut melihatku.

“Mbak Rani.”

“Kamu ada acara di sini?”

“Reuni sekolah.”

“Kami baru lihat ruangan untuk acara dua bulan lagi.” Matanya jatuh pada tasku. “Desain sampul Aruna aman dibawa, kan?”

Aku mengangguk cepat. “Aman.”

“Bagus. Tim promosi suka sekali sama nama Aruna. Mereka bahkan...”

“Naira?”

Suara Selvi terdengar dari belakangku.

Aku menegang.

Ia berjalan mendekat sambil membawa ponsel dan lipstik. Tatapannya berpindah dariku ke Mbak Rani.

“Mbak Rani, kan?” sapanya dengan nada yang mendadak manis. “Kita pernah video call soal acara Pustaka Aruna.”

Mbak Rani mengingatnya setelah beberapa detik. “Oh, Selvi. Betul.”

“Mbak kenal Naira?”

“Tentu. Dia Aru...” Mbak Rani berhenti saat melihat wajahku. “Dia penulis yang naskahnya saya tangani.”

Kesalahan itu kecil, kurang dari satu suku kata. Tetap saja, ia baru saja memberikan ujung benang kepada orang yang paling suka menariknya.

Mata Selvi menyipit.

“Tadi Mbak mau bilang Aruna, kan?”

Catatan Kumala: Identitas Naira nyaris terbuka. Kalau jadi Naira, apa kalian akan jujur kepada Selvi sekarang?

Akhir Bab 4

Komentar (0)

Masuk Masuk untuk ikut berkomentar.