Bab 3

Bab 2: Rekening Atas Namaku

1,021 kata

“Kak Naira, sekalian bikinin kalimat promosinya, ya.”

Wina meletakkan laptop di depanku, tepat di samping piring berisi potongan bolu yang belum sempat kusentuh.

Di layar, adikku memakai blazer warna krem di bawah judul besar tentang program tabungan pendidikan. Hanya ada dua kalimat kaku yang terasa seperti disalin dari brosur bank.

“Aku datang buat makan siang ulang tahun Ibu,” kataku.

“Iya, ini cuma sebentar.” Wina duduk sambil membuka kamera ponsel. “Kakak kan biasa nulis. Bikin yang lebih menyentuh, gitu. Aku mau unggah sore ini.”

Di ujung meja, Ibu sedang memindahkan rendang ke wadah plastik untuk dibawa pulang Wina. Porsinya hampir setengah dari yang tadi dihidangkan.

“Tolongin adikmu, Naira,” kata Ibu. “Dia lagi dikejar target.”

Seminggu sudah lewat sejak pertemuanku dengan Mbak Rani. Hari itu aku melirik jam di dinding. Pukul satu lewat sepuluh. Pukul tiga nanti aku harus mengirim hasil revisi pertama. Semalam aku baru tidur pukul dua karena menunggu Mas Galang selesai menonton pertandingan di ruang tengah. Aku tidak berani membuka laptop selama ia masih bangun.

“Aku juga punya pekerjaan,” jawabku.

Wina menurunkan ponsel. “Pekerjaan apa?”

Pertanyaan itu disusul tawa kecil. Bukan tawa keras yang sengaja melukai. Justru itu yang membuatnya lebih perih. Menertawakanku sudah menjadi hal biasa sampai ia tidak perlu berniat jahat.

“Aku sedang menyunting naskah.”

“Naskah yang suka Kakak unggah itu?”

“Iya.”

Ibu menutup wadah rendang. “Memangnya ada yang baca?”

“Ada.”

“Dibayar?” Wina bertanya.

Aku belum menandatangani kontrak. Konsultasi singkat dengan advokat keluarga dua hari lalu membuatku meminta dua kalimat diperjelas: hak buku daring tidak ikut tersapu ke dalam kontrak, dan penghasilan naskah yang tercantum di lampiran akta dibayar ke rekeningku. Legal penerbit masih memeriksanya. Secara teknis, jawaban yang paling aman adalah belum.

“Sedang menuju ke sana.”

Wina bersandar. “Kalau belum dibayar, ya belum kerja namanya, Kak.”

Ibu meletakkan wadah ke dalam tas belanja. “Sudah, jangan bikin kakakmu tersinggung. Naira itu dari dulu memang suka menulis. Biar ada kegiatan di rumah.”

Biar ada kegiatan.

Seperti aku memelihara tanaman dalam pot supaya tidak bosan.

Aku ingat ketika pertama kali mendapat pekerjaan sebagai penyunting konten. Gajiku tidak besar, tetapi aku pulang membawa martabak untuk Ibu. Wina masih kuliah waktu itu. Aku yang membantu membayar uang praktiknya selama dua semester.

Setelah menikah dan berhenti bekerja, semua itu seolah terhapus.

Ibu kini memperkenalkanku kepada tetangga dengan kalimat, “Naira di rumah saja.”

“Aku nggak bisa bantu sekarang,” kataku sambil mendorong laptop Wina pelan.

Alis adikku naik. “Lima menit juga jadi.”

“Kalau cuma lima menit, kamu bisa kerjakan sendiri.”

Wina menatap Ibu. Tatapan yang sama seperti saat kami kecil dan ia ingin mengambil barang milikku. Bedanya, dulu yang diminta hanya pita rambut atau buku gambar.

“Naira,” tegur Ibu. “Adik minta tolong baik-baik.”

“Aku juga jawab baik-baik, Bu. Aku nggak bisa.”

“Kamu di rumah punya banyak waktu. Wina kerja dari pagi.”

Gagang garpu menekan ruas jemariku. Ada banyak jawaban yang ingin keluar. Tentang cucian Mas Galang. Tentang makan siang Mama Mirna. Tentang naskah setebal tiga ratus halaman yang kutulis ketika orang lain tidur.

Namun, aku hanya meletakkan garpu.

“Aku pulang dulu.”

Ibu mengembuskan napas keras. “Ini hari ulang tahun Ibu.”

“Aku datang dari pagi. Aku masak mi goreng kesukaan Ibu. Aku juga yang pesan kuenya.”

“Terus sekarang kamu mau hitung-hitungan?”

Kalimat itu membuatku membeku.

Orang-orang di sekitarku boleh menghitung semua yang mereka berikan kepadaku. Uang belanja, cicilan rumah, satu piring makan siang. Namun, ketika aku menyebut apa yang kulakukan, aku dianggap perhitungan.

Wina mengambil kembali laptopnya. “Udah, Bu. Biar aku bayar orang aja. Kak Naira mungkin capek jadi ibu rumah tangga.”

Ia tersenyum sambil mengatakan itu. Matanya tetap tertuju pada layar.

Aku berdiri dan membawa piring kotorku ke dapur. Kebiasaan. Bahkan saat marah, aku masih memikirkan siapa yang harus mencuci piring.

Ponselku berbunyi ketika aku membuka keran.

Pesan dari Mbak Rani.

Legal sudah menyetujui revisi kontrak. Kalau kamu bisa datang sebelum pukul empat, kita tanda tangan hari ini. Jangan lupa siapkan rekening atas namamu sendiri. Pencairan uang muka diproses sesudah data pajak dan rekening lengkap, ya.

Aku mematikan keran.

Rekening yang kupakai selama ini adalah rekening bersama untuk kebutuhan rumah. Kartu ATM-nya dipegang Mas Galang karena katanya aku sering lupa mencatat pengeluaran. Aku masih punya rekening lama dari masa bekerja, tetapi sudah bertahun-tahun tidak aktif.

“Bu,” panggilku dari pintu dapur. “Aku benar-benar harus pergi.”

Ibu tidak menjawab. Wina sedang menunjukkan video di ponselnya dan keduanya tertawa.

Aku mengambil tas, memesan kendaraan, lalu pergi tanpa menunggu ada yang mengantarku sampai pagar.

Sebelum ke penerbit, aku mampir ke cabang bank. Keringat merembes di telapak ketika petugas menanyakan tujuan pembukaan rekening.

“Untuk menerima penghasilan,” jawabku.

Kata itu terasa asing di mulutku. Penghasilan.

Satu jam kemudian, buku rekening baru tersimpan di tas. Namaku tercetak di sana tanpa nama siapa pun di sampingnya.

Di kantor Pustaka Aruna, aku membaca kontrak sekali lagi. Mbak Rani menunggu dengan sabar. Setelah yakin, kutandatangani setiap bagian yang diminta.

“Selamat datang, Aruna Pradi,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya. “Terima kasih sudah memberi kesempatan.”

“Kamu lolos rapat akuisisi. Nggak usah berterima kasih kayak saya menyelamatkan kamu.”

Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan kalimatnya. Terdengar galak, tetapi aku membutuhkannya.

Malamnya, saat Mas Galang mandi, aku memeriksa surel dan mengirim revisi tepat waktu. Aku juga menulis jadwal kerja pada halaman pertama buku catatan: dua jam pagi, dua jam malam. Tidak ada lagi menerima permintaan mendadak pada jam itu.

Delapan hari kemudian, aku sudah menandai revisi bab keempat belas ketika sebuah notifikasi muncul pukul sembilan lewat empat puluh. Mas Galang sedang mandi. Penerbit sudah mengirim rincian bahwa jumlah itu adalah uang muka yang akan diperhitungkan dari royalti berikutnya. Dokumen pajaknya akan mengikuti sesuai proses administrasi.

Aku membuka aplikasi bank yang baru dipasang. Untuk beberapa detik, aku hanya menatap layar karena takut angka itu akan hilang jika kusentuh.

TRANSFER MASUK: PT PUSTAKA ARUNA.

Rp35.000.000.

Aku membuka buku catatan dan membuat empat baris. Cadangan pajak kalau ada selisih. Biaya kerja dan konsultasi. Dana kesehatan. Sisanya tidak boleh disentuh sampai aku tahu biaya hidup enam bulan jika harus menyewa tempat sendiri.

Angka di layar itu bukan hadiah dan belum membuatku kaya. Namun, setelah enam tahun, ada uang yang tidak perlu kumintakan kepada siapa pun.

Catatan Kumala: Naira akhirnya berkata tidak dan menerima penghasilan pertamanya. Haruskah ia segera memberi tahu Mas Galang?

Akhir Bab 3

Komentar (0)

Masuk Masuk untuk ikut berkomentar.